Your SlideShare is downloading. ×
Leisa di lahan basah
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Introducing the official SlideShare app

Stunning, full-screen experience for iPhone and Android

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Leisa di lahan basah

3,069
views

Published on

Published in: Business, Technology

1 Comment
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
3,069
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
57
Comments
1
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 AGRIBISNIS TERPADU BERSISTEM LEISA DI LAHAN BASAH: MODEL HIPOTETIK1 (Integrated Agribusiness Practicing LEISA System in Lowland: Hypothetical Model) Wahju Q. Mugnisjah, Suwarto, dan Ahmad S. Solihin ABSTRACT LEISA refers to forms of agriculture that seek to optimize the use of locally available resources by combining the different components of the farm system (i.e. plants, animals, soil, water, climate and people) so that they complement each other and have the greatest possible synergetic effects. In the system of LEISA proposed here, ecological risks generated by the external inputs are avoided, and reversally, the farm system performance is enriched by the use of internal inputs (including by products) produced in the agro-ecosystem The external inputs in form of agro- chemicals (inorganic fertilizers and pesticides) are used in a limited number to replace nutrients those transported out of the agro-ecosystem through harvest. Selecting a hypothetical model of LEISA by integrating crop production (1.25 ha), fish nursery (0.50 ha), and duck husbandry (1000 ducks at the dike of pond) shows that the system being feasible. The hypothetical model needs investation cost as much as Rp 64 195 000 and operational cost of Rp 41 289 825, giving a total cost of Rp 105 484 825 (as lending cost). Based on the estimation of monthly cash flow with annual DF 18% and grace period of 11 months, the hypothetical model gives NPV at the 36th month = Rp 38 556 960, Net B/C = 1.43, IRR = 39.42, and payback periods = 25 months. I. PENDAHULUAN Sampai dengan pertengahan kedua PELITA VI Indonesia telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi (5%/tahun), kesejahteraan rakyat (pendapatan per kapita US$1300), dan kemajuan-kemajuan fisik lainnya. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut menyebabkan kesenjangan penghasilan yang semakin besar antara golongan rakyat berpenghasilan tinggi dan yang berpenghasilan rendah. Daya beli rakyat berpenghasilan rendah bahkan semakin merosot dengan terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 yang diikuti oleh, antara lain, krisis ekonomi, yang dampaknya masih terasa hingga kini. Krisis ekonomi 1997 telah menyebabkan penghasilan bangsa Indonesia kembali ke taraf yang dicapai pada awal PELITA I, 30 tahun yang lalu (pendapatan per kapita US$300). The World Bank (1998) telah menganalisis situasi Indonesia dalam krisis ekonomi tersebut di atas lebih rinci lagi. Para pakar ekonomi makro bahkan memperkirakan bahwa kebangkitan ekonomi nasional masih memerlukan waktu yang lama. Petani, khususnya petani penggarap, sangat merasakan dampak dari kepailitan ekonomi di atas karena umumnya teknologi pertanian mereka dilaksanakan dengan taraf penggunaan agrokimia yang tinggi. Pertanian konvensional yang sarat impor masukan tersebut tidak tercukupi kebutuhan masukannya karena daya beli petani yang rendah, selain kadang-kadang terdapat kelangkaan sarana produksinya di pasar. Bukan saja petani tanaman, peternak juga mengalami kesulitan yang sama karena pakan harus dibeli, lebih-lebih yang berbahan baku impor, yang harganya tinggi. Karena itu, dalam hubungan ini dapat dipahami pendapat Baharsjah (1992) sebelumnya, bahwa kebijakan pembangunan pertanian hendaknya terkait langsung dengan upaya penanggulangan kemiskinan dalam skala yang bersifat nasional. Kelemahan sistem pertanian konvensional monokultur sebagaimana yang dikemukakan di atas memerlukan adanya alternatif sistem pertanian lain yang lebih memberikan harapan untuk meningkatkan pendapatan petani. Tulisan ini bermaksud menunjukkan ketangguhan sistem 1 Artikel ini diterbitkan di Bul. Agron. Tahun 2000, 28(2):49-61 dengan penyesuaian format [Mugnisjah, W.Q., Suwarto, dan A. S. Solihin. 2000. Agribisnis Terpadu Bersistem LEISA di Lahan Basah: Model Hipotetik. Bul. Agron. 28(2):49-61]
  • 2. 2 pertanian berkelanjutan dengan masukan eksternal rendah (LEISA, low-external-input and sustainable agriculture) dengan memilih model pertanian terpadu di lahan basah yang terdiri dari usahatani pertanaman, ternak itik petelur, dan ternak benih ikan. II. KONSEP EKOLOGIK LEISA DALAM KONTEKS PERKEMBANGAN SISTEM PERTANIAN TROPIKA A. Arah Perkembangan Sistem Pertanian Tropika Sejarah pertanian menunjukkan bahwa sistem pertanian telah berkembang dari sistem indigenus yang ramah lingkungan ke sistem konvensional, industrial, atau modern yang tidak ramah lingkungan. Ketidakramahan sistem pertanian konvensional, yang nota bene berkembang lebih dahulu di negara-negara maju, terjadi karena penggunaan teknologi yang sarat masukan luar berupa agrokimia, terutama pupuk inorganik dan pestisida buatan. Di negara berkembang yang beriklim tropika, termasuk Indonesia, ketidakramahan sistem pertanian lebih besar lagi akibat bergesernya lahan-lahan pertanian ke daerah perbukitan. Hal ini terjadi karena adanya tekanan penduduk dan konversi lahan pertanian menjadi lahan permukiman dan industri manufaktur. Akibatnya, pertanian tropika telah cenderung berkembang menuju sistem yang menggunakan masukan eksternal berlebihan (disebut high-external-input agriculture, HEIA) atau sistem yang menggunakan sumberdaya lokal secara intensif dengan sedikit atau tidak sama sekali masukan eksternal, tetapi mengakibatkan kerusakan sumberdaya alam (disebut low-external-input agriculture, LEIA). Reijntjes, Haverkort, dan Waters-Bayer (1992) menulis bahwa HEIA merupakan pertanian konvensional dan banyak dipraktekkan di lahan-lahan yang secara ekologik relatif seragam dan dapat dengan mudah dikontrol. Lahan-lahan demikian biasanya juga beraksesibilitas baik sehingga memiliki kemudahan dalam pengadaan sarana produksi dan pemasaran hasilnya. Sistem ini telah terbukti berhasil meningkatkan produksi pertanian berkat dukungan masukan eksternal yang berupa benih varietas unggul (terutama hibrid), agrokimia (terutama pupuk inorganik dan pestisida buatan), bahan bakar asal fosil untuk mekanisasi, dan dalam beberapa kasus juga irigasi. Namun, HEIA disadari berdampak pada hal-hal yang tidak diinginkan, berupa kondisi lingkungan yang rusak dan berbahaya bagi mahluk hidup termasuk manusia. Hal ini terjadi karena sistem tersebut sangat tergantung pada masukan kimia artifisial seperti yang telah dikemukakan. Di pihak lain, LEIA, meskipun menggunakan masukan eksternal yang rendah, bahkan mungkin tanpa masukan eksternal sama sekali, bukanlah merupakan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Hal ini terjadi karena sistem ini banyak dipraktekkan di kawasan yang tersebar dan rawan erosi, seperti di lahan- lahan yang berlereng di perbukitan. Karena tidak ada lahan alternatif yang bisa diusahakan, petani sering kali terdorong untuk mengeksploitasi lahan marginal tersebut di luar daya dukungnya. Degradasi tanah berlangsung akibat hara yang terangkut keluar kebun oleh hasil panen tidak terganti oleh kurang atau tidak adanya masukan eksternal. Perluasan LEIA ke kawasan baru yang umumnya juga marginal menyebabkan penggundulan hutan, degradasi tanah, dan peningkatan kerentanan terhadap serangan hama-penyakit dan bencana kekeringan yang berkepanjangan. Seperti halnya HEIA, sistem LEIA pun tidak berkelanjutan. B. Konsep Ekologik LEISA Adanya kelemahan-kelemahan dari sistem HEIA dan LEIA telah mengundang keperluan untuk mencari sistem pertanian alternatif yang meniru ekosistem alamiah yang “matang”. Ekosistem alamiah demikian dinilai sebagai ekosistem yang berkelanjutan dan di antara sistem buatan yang diinginkan itu, menurut Reijntjes et al. (1992) adalah sistem LEISA. Sistem ini merupakan bentuk pertanian yang berupaya mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang tersedia secara lokal dengan mengkombinasikan komponen yang berbeda dalam sistem lapang produksi (yaitu tanaman, hewan, tanah, air, iklim, dan manusianya) sehingga komponen-komponen tersebut saling melengkapi dan memiliki pengaruh sinergik yang maksimal. Dalam sistem LEISA, resiko ekologik dari masukan eksternal yang tinggi dihindari, karena itu, masukan eksternal berupa bahan-bahan agrokimia hanya digunakan secara terbatas. Sebaliknya, kinerja sistem diperkaya
  • 3. 3 dengan pelibatan masukan internal yang diproduksi sendiri di dalam sistem, yakni dengan mendaurulangkan biomas yang dihasilkan di dalam sistem ke dalam ekosistem dan menekan transportasi biomas ke luar ekosistem hingga minimal. Selain itu, biodiversitas (khususnya tanaman) ditingkatkan. Dengan karakteristik demikian, ekosistem yang diharapkan ini akan menjadi produktif dan berkelanjutan karena memiliki fungsi ekologik yang baik akibat adanya peran komplementer dan sinergik dari aneka spesies tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang menghasilkan masukan internal dan menciptakan fungsi protektif. Sistem LEISA telah terbukti merupakan pertanian yang bernilai ekonomi bagi kalangan petani Kunming, Cina, meskipun terminologi tersebut tidak digunakan. Ketangguhan sistem tersebut dicapai akibat adanya efisiensi usahatani yang tinggi dalam agroekosistem sebagaimana yang dilaporkan Cai (1995) untuk model pekarangan. Reijntjes et al. (1992) mengajukan lima prinsip ekologik dari sistem LEISA yang perlu dijadikan rujukan dalam praktek bertani. Kelima prinsip tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengamankan kondisi tanah agar sesuai untuk tanaman, terutama dengan mengelola bahan organik dan merangsang kehidupan jasad hidup di dalam tanah; (2) mengoptimalkan ketersediaan hara dan menyeimbangkan arus hara, terutama dengan mengintroduksikan tanaman penambat nitrogen, mendaurulangkan hara, dan menggunakan pupuk eksternal secara komplementer; (3) meminimalkan kehilangan akibat radiasi matahari, udara, dan air (misalnya penguapan air berlebihan, kekeringan, kebanjiran, dan rebah) dengan cara mengelola mikroklimat, mengelola air, dan mengendalikan erosi; (4) meminimalkan kehilangan hasil oleh hama dan penyakit dengan mengendalikannya secara terpadu; (5) menggali potensi kegunaan sumberdaya genetik secara komplementer dan sinergik dengan mempertahankan biodiversitas yang tinggi. Secara substantif kelima prinsip ini tidak berbeda dengan delapan prinsip yang dikemukakan oleh Cai (1995), tetapi peneliti ini menyebutnya dengan prinsip eko-ekologik, yang memberikan penekanan pada perlunya keseimbangan antara aspek ekologik dan aspek ekonomik dari agroekosistem yang bersangkutan. III. MODEL HIPOTETIK AGRIBISNIS BERSISTEM LEISA DI LAHAN BASAH A. Langkah Pembangunan Agroekosistem LEISA Keberlanjutan sistem LEISA lebih cepat dicapai jika komoditi yang diusahakan merupakan komoditi yang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Sistem LEISA, karenanya, merupakan sistem pertanian yang spesifik lokasi. Hal ini berarti bahwa keberlanjutan sistem LEISA dapat dicapai oleh ekosistem-ekosistem yang berbeda komponennya. Dengan demikian, terdapat keperluan untuk selalu menilai kinerja ekosistem yang dibangun untuk mencapai sistem ini. Langkah-langkah yang dapat digunakan sebagai panduan normatif dalam pembangunan sistem LEISA di lahan basah adalah sebagai berikut: (1) penetapan lokasi dan penilaian potensi lahannya, (2) penetapan peruntukan lahan dan ragam jenis komoditinya (diversifikasi horizontal), (3) pemilihan dan penetapan komoditi untuk LEISA, (4) penyusunan pola tanaman dan tata letak pertanaman, ternak, dan ikan di kebun, (5) penetapan cara penanganan sarana produksi dan produknya, (6) implementasi kegiatan agribisnis dengan sistem tersebut, (7) penilaian keberlanjutan kegiatan agribisnis tersebut, dan (8) pengembangan sistem tersebut jika layak ke daerah sekitar atau daerah lain. Deskripsi ringkas dari setiap langkah tersebut dikemukakan dalam sistem LEISA hipotetik di bawah ini. B. Gambaran Hipotetik Agribisnis Bersistem LEISA 1. Penetapan Lokasi dan Penilaian Potensi Lahan Sistem LEISA hipotetik yang dikemukakan dalam tulisan ini bertempat di lahan sehamparan (seluas tidak kurang dari 1.75 hektar) yang berpotensi cukup baik di Desa Sindangasih, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur. Lahan tersebut terdiri dari 1.25 ha sawah dan 0.50 ha kolam yang masing-masing dimiliki oleh petani yang berbeda (dua orang), karenanya, dengan manajemen usahatani yang terpisah. Lahan sawah (sebelum diubah menjadi sistem LEISA) biasanya diusahakan dengan pola tanam padi padi bera atau padi ubi jalar bera dengan teknologi
  • 4. 4 pertanian konvensional sebagaimana yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Lahan yang berupa kolam pada saat ini diusahakan untuk beternak ikan (nila, bawal, dan patin) dan itik dengan teknologi yang dikembangkan oleh petani sendiri. Kedua bidang lahan tersebut akan diintegrasikan pengelolaannya menjadi satu kesatuan manajemen dengan model pertanian terpadu bersistem LEISA. Penetapan lahan tersebut dilakukan dengan pertimbangan ekonomik sebagai berikut: (1) usahatani yang kini dilaksanakan masih dapat ditingkatkan efisiensinya dengan sistem LEISA; (2) lokasi lahan beraksesibilitas baik, tidak terlalu jauh dari pasar sarana produksi dan produk usahatani; (3) tidak ada kendala ketersediaan tenaga kerja. Pertimbangan ekologik yang diambil mencakup hal-hal berikut: (1) lahan dapat ditanami sepanjang tahun (tiga musim tanam); (2) lahan, khususnya sawah, biasanya diusahakan dengan teknologi pertanian konvensional; (3) terdapat saluran air untuk memasok keperluan lahan, khususnya kolam, sepanjang tahun. Pertimbangan sosialnya adalah (1) pemilik lahan tidak keberatan jika lahannya dikelola dengan sistem LEISA; (2) instansi pemerintah terkait, antara lain, Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Perikanan, dan Dinas Peternaan mendukung usahatani ini; (3) Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cianjur telah menetapkan visi berupa terwujudnya Kabupaten Cianjur sebagai salah satu pusat agribisnis dan pariwisata andalan Jawa Barat di era otonomi daerah (Anonimus, 2001a; Anonimus, 2001b). 2. Peruntukan Lahan dan Ragam Jenis Komoditi Peruntukan lahan ditetapkan dengan memperhatikan kelayakannya sebagai tempat kegiatan pertanian berpendekatan LEISA, yang terdiri dari satu kesatuan pengelolaan usahatani tanaman, ternak itik, dan ikan. Peruntukan lahan saat ini disajikan dalam Tabel 1, sedangkan rencana peruntukan lahan yang dikonsolidasikan menjadi LEISA disajikan dalam Tabel 2. Tabel 1. Unit-unit Lahan Sebelum Dikonsolidasikan dengan Sistem LEISA Petani Pemilik Jenis Lahan1 Luas (ha) Peruntukan Lahan Saat Ini Teknologi Pertanian Saat Ini Komoditi Luas (ha) Jumlah (ekor) 1 Sawah 1.25 Padi-padi-bera; Padi-ubi-bera 1.25 - Konvensional 2 Kolam 0.50 Ikan penghasil benih 0.50 Itik di pematang kolam, dengan teknologi petaniItik petelur 1000 1 Kedua bidang lahan ini dikelola sendiri-sendiri Tabel 2. Peruntukan Lahan setelah Dikonsolidasikan Menjadi Satu Kesatuan Manajemen LEISA Petani Penyewa Jenis Lahan Luas (ha) Peruntukan Lahan Baru Teknologi Pertanian Terpadu Komoditi Luas (ha) Jumlah (ekor) 1 Sawah 1.25 Mina padi-cabe- jagung manis1 1.25 - Sistem LEISAKolam 0.50 Ikan penghasil benih 0.50 Itik petelur 1000 1 Lahan dibagi 3 subbidang, masing-masing untuk ketiga komoditi tersebut yang dirotasikan 3. Pemilihan dan Penetapan Komoditi untuk LEISA Penetapan komoditi LEISA dilakukan dengan mempertimbangkan perlunya petani sesering mungkin mendapatkan penghasilan dari kebunnya. Pemeliharaan itik petelur memberikan penghasilan harian bagi petani; pemeliharaan ikan memberikan penghasilan setiap 40 hari;
  • 5. 5 pertanaman memberikan penghasilan setiap 3-5 bulan. Selain itu, pengusahaan tanaman dan hewan ternak juga ditujukan untuk melaksanakan fungsi pendaurulangan hara di dalam sistem agar dapat mengurangi penggunaan masukan usahatani dari luar sistem (artinya juga menekan biaya usahatani). Jadi, baik tanaman maupun hewan ternak dan ikan menghasilkan produk utama untuk memenuhi kebutuhan pengelolanya (berupa penghasilan dan bahan pangan) dan produk ikutan untuk kebutuhan proses produksi tanaman dan hewan (sebagai sumber masukan internal). Tabel 3 menyajikan jenis-jenis tanaman, ternak, dan ikan yang diusahakan berikut luas atau populasi serta fungsinya di dalam kebun. Biodiversitas (dengan polikultur) mendapatkan penekanan dalam sistem pertanian yang akan dibangun. Tabel 3. Jenis-jenis Tanaman dan Hewan yang Diusahakan dalam Agribisnis Bersistem LEISA di Tiga Unit Usahatani yang Dikonsolidasi No. Unit Lahan dan Jenis Komoditi Luas Lahan (ha) Jumlah (ekor)/(kg)/ (liter) Fungsi dalam Kebun A. Lahan Sawah 1.25 1. Padi sawah1 0.40 Menghasilkan pangan dan limbah bahan kompos (jerami, sekam) dan pakan ikan (dedak, menir, split); keong mas untuk pakan itik (sehingga tidak menjadi hama) 2. Cabai1 0.40 3. Jagung manis1 0.40 4. Keong mas 0.40 Sejumlah yang berkembang alamiah B. Kolam Ikan 0.50 1. Patin 0.20 75000 ekor Menghasilkan benih ikan 2. Bawal 0.10 100000 ekor 3. Nila 0.20 4 liter 4. Itik (di pematang kolam) 0.06 1000 ekor Menghasilkan telur, daging, dan pupuk kandang untuk pertanaman; kotoran untuk ikan 5. Keong mas (di kolam) 0.50 Sejumlah yang ber- kembang alamiah Pakan itik 1 Padi, cabai, dan jagung manis masing-masing ditanam menempati kurang lebih sepertiga luas sawah dan dirotasikan satu sama lain 4. Penetapan Pola Tanam dan Tata Letak Pertanaman, Ternak, dan Ikan Pola tanam dan pola pengusahaan ternak dan ikan ditentukan dengan mempertimbangkan prinsip intensitas penggunaaan lahan yang tinggi, baik dari aspek ekonomi maupun dari aspek ekologi (pendaurulangan hara). Pertanaman ganda dilakukan untuk mengurangi resiko ekonomi jika terjadi kegagalan pertanaman atau harga produk suatu jenis tanaman rendah. Rotasi tanaman semusim dilakukan dengan mempertimbangkan perlunya inkorporasi kompos biomas hasil sampingan ke dalam tanah. Tabel 4 menyajikan frekuensi pengusahaan tanaman dan ternak di kebun per tahun dan selama jangka waktu pengembalian uang cicilan kepada penyandang dana. Frekuensi pengusahaan komoditi tersebut disesuaikan dengan potensi lahan yang digunakan, khususnya dengan ketersediaan air atau curah hujan setempat (Gambar 1). Tabel 4. Frekuensi Pengusahaan Tanaman dan Ternak/Ikan di Kebun No. Uraian Kegiatan Usahatani Waktu Frekuensi Kegiatan Usahatani
  • 6. 6 Kegiatan1 Per Tahun Selama Pengembalian Pinjaman (3 Tahun) 1. Produksi padi 4 bulan 2 kali 6 kali 2. Produksi cabe 5 bulan 2 kali 6 kali 3. Produksi jagung manis 2.5 bulan 4 kali 12 kali 4. Produksi telur itik 2 tahun 0.5 kali 1.5 kali 5. Produksi benih ikan patin 40 hari 6 kali 18 kali 6. Produksi benih ikan bawal 40 hari 6 kali 18 kali 7. Produksi benih ikan nila 40 hari 6 kali 18 kali 1 Tidak terhitung waktu penyiapan kegiatan produksi; pembesaran ikan berlangsung selama 40 hari. Frekuensi pengusahaan ikan 6 kali per tahun dianggap moderat untuk sistem ini A C J, manis (0.4 ha) J. manis (0.4 ha) Padi (0.4 ha) Cabai (0.4 ha) J. manis (0.4 ha) J. manis (0.4 ha) Padi (0.4 ha) Cabai (0.4 ha) Itik (1000 ekor) Ikan nila 6 kali (0.20 ha) Gambar 1. Pola Tanam dan Tata Letak Pertanaman, Ternak, dan Ikan di Lahan Keterangan: (1) Angka dalam kurung menunjukkan luas tanaman (ha). jumlah ternak (ekor), atau luas kolam ikan (ha) (2) Grafik menunjukkan curah hujan bulanan dari Januari sampai Desember 1998 di kecamatan Cibeber, Cianjur (tidak ada data curah hujan di Kecamatan Karang Tengah) (3) Keong mas tumbuh dan berkembang secara alamiah di kolam dan sawah kemudian dipanen (4) Urutan rotasi tanaman antar bidang lahan di Tahun II: A B C; di Tahun III: C A B Keong mas Ikan bawal 6 kali (0.10 ha) Ikan patin 6 kali (0.20 ha) B
  • 7. 7 5. Penetapan Cara Penanganan Sarana Produksi dan Produk Sarana produksi dan produk di dalam kebun ditangani sedemikian cara hingga daur ulang produk ikutan atau limbah yang telah diolah dapat berlangsung. Sistem pengusahaan tanaman dan ternak memanfaatkan masukan internal semaksimal mungkin. Penggunaan masukan eksternal seperti pupuk inorganik dan pestisida buatan akan sangat dibatasi. Bahan organik untuk pakan ternak dan ikan yang didatangkan dari luar lahan pun akan diutamakan dengan menggunakan limbah pasar terdekat. Demikian pula, pemasaran produk diupayakan ke pasar terdekat secara langsung tanpa perantara atau mengundang pembeli langsung datang ke lahan usahatani. Gambar 2 memperlihatkan arus materi dan uang menurut cara penanganan masukan dan produk tersebut di atas. Gambar 2. Daur Materi dan Uang dalam Agribisnis dengan Sistem LEISA 6. Implementasi Kegiatan Agribisnis Kegiatan agribisnis dibagi ke dalam tiga tahap: tahap persiapan kegiatan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pemantapan kegiatan (Gambar 3). Kegiatan yang lebih rinci di masing-masing tahapan adalah sebagai berikut. Tahap Persiapan Kegiatan Perancangan kegiatan usahatani dilakukan secara rinci mencakup hal-hal yang telah dikemukakan terdahulu dan disusun jadwalnya. Peruntukan lahan ditetapkan dengan prinsip bahwa arus energi dan pemanfaatan limbah di kebun dapat diupayakan semaksimal mungkin. Pendaurulangan hara yang efisien dipersiapkan dengan penataletakan komoditi dan proses produksi yang tepat di lapang produksi. Produk Utama (pangan) Produk Ikutan (hijauan, keong mas) Proses Produksi Tanaman Rumah Tangga Pengelola Limbah Rumah Tangga/Dapur (hijauan dll) Masukan Eksternal (agrokimia) UangPasar Produk Ikutan (kotoran ternak, keong mas) Proses Produksi Ternak & Ikan Produk Utama (daging, telur, benih ikan) Arus energi yang memungkinkan sistem terbuka sehingga mendatangkan masukan eksternal Arus energi yang membangun sistem tertutup karena mampu menghasilkan masukan internal
  • 8. 8 Pengadaan bahan dan alat produksi dilaksanakan dengan mendahulukan yang diperlukan untuk pembangunan prasarana usahatani. Pertemuan antaranggota pengelola dan pengelola dengan karyawan dilakukan untuk mempersiapkan pelaksanaan kegiatan di lapang. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Sarana produksi pertanian (bahan dan alat pertanian) diadakan secara bertahap sesuai dengan kegiatan kebun. Proses produksi pertanian dilaksanakan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip LEISA. Pencatatan hal-hal penting yang terjadi selama proses produksi dilakukan dengan teliti, misalnya pelaksanaan jadwal penanaman dan pemeliharaan tanaman, jadwal pemberian pakan ternak dan ikan, serta jadwal dan hasil panen komoditi yang diusahakan. Pengomposan merupakan kegiatan penting yang tidak boleh diabaikan. Volume hasil dan nilai jual hasil panen dan yang dikonsumsi oleh keluarga tani perlu dicatat pula. Gambar 3. Implementasi Kegiatan Agribisnis Sosialisasi kegiatan kebun kepada instansi pemerintah/swasta terkait dan masyarakat setempat perlu dilakukan agar pengembangan kebun memperoleh dukungan dari mereka. Bahkan, hubungan dengan universitas pertanian perlu dibina pula untuk tujuan yang sama. Untuk meningkatkan ketahanan usaha, pasar/konsumen yang ada harus terus dipertahankan, bahkan, harus diupayakan pasar-pasar alternatifnya. Selain itu, kepercayaan dari bank harus dijaga dengan upaya pengembaliaan pinjaman dan bunganya secara tepat waktu. Demikian pula, pelaksanaan daur produksi komoditi yang diusahakan secara berkala agar dijaga ketat sesuai dengan pewaktuan yang semestinya. Implementasi kegiatan memerlukan kinerja manajemen yang baik oleh para pengelolanya. Karena itu, pertemuan lengkap berkala antaranggota pengelola dan antara pengelola dan tenaga TAHAP PERSIAPAN KEGIATAN (bulan ke-1): Perancangan (rinci) kegiatan lapang Pengadaan prasarana dan sarana produksi pertanian Pertemuan pengelola dan dengan calon tenaga kerja TAHAP PELAKSANAAN KEGIATAN (sejak bulan ke-2): Pengadaan prasarana dan sarana produksi pertanian Proses produksi pertanian Pemasaran dan penguatan pasar hasil pertanian Pertemuan berkala pengelola dan dengan karyawan Pemantauan dan perbaikan kegiatan oleh spesialis LEISA Pengembalian pinjaman dan bunganya Sosialisasi kepada lembaga pemerintah/swasta terkait dan masyarakat setempat TAHAP PEMANTAPAN KEGIATAN (sejak bulan ke-24): Pengembalian pinjaman dan bunganya hingga bulan ke-36 Penguatan pasar produk dan hubungan kelembagaan usahatani Promosi kegiatan kepada masyarakat tani setempat
  • 9. 9 kerja di lapang perlu dilaksanakan setidaknya sekali per bulan. Masalah yang timbul harus diatasi sesegera mungkin, termasuk yang menyangkut hubungan kerja dengan para petugas di lapangan. Ketidaksepahaman antara pengelola dengan petugas di lapangan tersebut harus diupayakan penyelesaiannya secara kekeluargaan dengan memperhatikan adat dan budaya setempat. Tahap Pemantapan Kegiatan Penguatan pasar produk usahatani terus ditingkatkan. Sisa angsuran pinjaman dan bunganya juga diteruskan pembayarannya hingga lunas. Promosi usaha kepada masyarakat setempat dibina untuk memperoleh peluang kemungkinan pengembangan/perluasan usaha bersama mereka jika hasil penilaian menunjukkan ketangguhan usaha ini. Implementasi kegiatan agribisnis yang dikemukakan memerlukan adanya tenaga tetap pengelola sehari-hari sebanyak 5 orang, masing-masing 1 orang yang bertindak sebagai manajer, pengurus adminstrasi dan keuangan, pekebun, peternak itik, dan peternak ikan yang harus “terikat” kepada kegiatan (bahkan tinggal) di atau dekat dengan kebun. Keempat tenaga ini harus dapat bekerjasama, saling membantu. Selain itu, spesialis LEISA diperlukan untuk mendampingi petugas di lapang pada saat-saat tertentu dan berperan sebagai pemantau dan penilai ketangguhan usahatani. Keenam orang tenaga pengelola merupakan tenaga tetap. Tenaga kerja tidak tetap yang jumlahnya bisa lebih banyak pada saat diperlukan (musiman) harus diupayakan dari penduduk setempat. Tenaga tetap mendapat gaji bulanan, sedangkan tenaga tidak tetap mendapat upah harian atau borongan, tergantung jenis pekerjaannya. 7. Penilaian Keberlanjutan Sistem LEISA Supervisi dan pemantauan kegiatan yang dilakukan secara berkala dan pencatatan data yang berkaitan dengan kegiatan agribisnis secara tertib dan teliti akan memudahkan penilaian ketangguhan usaha ini. Penilaian secara obyektif atas keberhasilan usaha selanjutnya dilaksanakan dengan menganalisis data yang telah dikumpulkan tersebut di atas. Secara teoritis sistem LEISA hipotetik yang dikemukakan dapat diuji dengan menggunakan analisis studi kelayakan sebagaimana yang akan dikemukakan di bawah ini. Laporan kegiatan usahatani disusun setiap enam bulan oleh pendamping kegiatan dengan mendapat masukan dari pengelola di lapang. Laporan kegiatan tersebut digunakan sebagai dokumentasi kemajuan kebun dan, jika diperlukan, untuk disampaikan kepada penyandang dana. Laporan kegiatan mencakup kegiatan budidaya, penggunaan dana pinjaman, dan keberhasilan proyek secara keseluruhan serta kemungkinan pengembangnnya ke lahan sekitar atau daerah lain. C. Keperluan Dana dan Kelayakan Agribisnis LEISA 1. Keperluan dan Sumber Dana Biaya usahatani hipotetik ini dijabarkan menurut jenis komponen usahataninya yakni produksi tanaman, produksi telur itik, dan produksi benih ikan. Keperluan biaya diasumsikan dapat diperoleh dari bank sebagai pinjaman dengan suku bunga 18% dan masa tenggang bayar selama 8 bulan. Biaya tersebut terdiri dari biaya untuk keperluaan investasi sebesar Rp 71 195 000,- dan biaya modal usaha untuk kegiatan usahatani komoditi daur pertama sebesar Rp 273 822 325,- .sehingga seluruhnya berjumlah Rp 345 017 325,-. Keperluan biaya usahatani untuk daur produksi selanjutnya bersumber dari pendapatan yang diterima dari kegiatan usahatani di musim sebelumnya. 2. Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan Usahatani Tabel 5 memperlihatkan besaran biaya, penerimaan, dan keuntungan menurut jenis kegiatan produksi yang dilaksanakan. Usahatani dengan sistem LEISA ternyata memberikan keuntungan meskipun pembandingan secara langsung dengan usahatani konvensionalnya tidak dapat dilakukan. Namun, setidaknya diketahui bahwa pertanaman ganda dan diversifikasi pengusahaan ikan lebih menguntungkan dibanding monokulturnya masing-masing jika biaya usahatani yang digunakan dalam sistem LEISA ini sama dengan sistem monokulturnya tersebut. Diperoleh gambaran juga bahwa pemanfaatan pematang kolam untuk beternak itik petelur memberikan tambahan keuntungan usahatani dibandingkan tanpa pemanfaatan tersebut.
  • 10. 10 Tabel 5. Biaya, Penerimaan, dan Keuntungan Usahatani Menurut Jenis Komoditi per Tahun No Uraian Kegiatan Nilai/musim Nilai/Th (Rp) (Rp) A Kegiatan Produksi Tanaman 1. Padi 2 kali (1) Biaya variabel 2 2258000 4516000 (2) Hasil 2 2700000 5400000 (3) Keuntungan 2 442000 884000 2. Cabe 2 kali (1) Biaya variabel 2 8304200 16608400 (2) Hasil 2 18000000 36000000 (3) Keuntungan 2 9695800 19391600 3. Jagung manis 4 kali (1) Biaya variabel 4 2528000 10112000 (2) Hasil 4 3200000 12800000 (3) Keuntungan 4 672000 2688000 B Produksi Itik Petelur 0.5 kali (1) Biaya variabel 0.5 236270000 118135000 (2) Hasil 0.5 264100000 132050000 (3) Keuntungan 0.5 27830000 13915000 C. Produksi Ikan 1. Patin 6 kali (1) Biaya variabel 6 10349250 62095500 (2) Hasil 6 15000000 90000000 (3) Keuntungan 6 4650750 27904500 2.Bawal 6 kali (1) Biaya variabel 6 2494625 14967750 (2) Hasil 6 4900000 29400000 (3) Keuntungan 6 2405375 14432250 3. Nila 6 kali (1) Biaya variabel 6 1413250 8479500 (2) Hasil 6 2000000 12000000 (3) Keuntungan 6 586750 3520500 D Biaya Tetap Lainnya 1. Gaji dan upah (bulanan) 12 bulan 31500000 378000000 2. Perjalanan spesialis LEISA 12 bulan 300000 3600000 3. Dokumentasi (6 bulanan) 2 kali 200000 400000 4. Laporan (6 bulanan) 2 kali 100000 200000 Keterangan: (1) Kebun ini menghasilkan campuran sekam dan kotoran itik sebanyak 710 kg/minggu dari 18 buah kandang dan keong mas sebanyak 375 kg/40 hari dari 0.5 ha kolam (2) Kekurangan keong mas untuk pakan itik dipasok dengan mengumpulkan dari sawah sebanyak 100 kg/hari untuk 1000 ekor itik Frekuensi/th 3. Kelayakan Sistem LEISA Kelayakan usaha dinilai dengan kriteria net present value (NPV), net benefit cost ratio (Net B/C), dan internal rate of return (IRR). Selain itu, ditetapkan juga jangka waktu pengembalian investasi (payback periods) agribisnis. Berdasarkan perkiraan arus uang bulanan dengan DF 18% per tahun sebagaimana disajikan pada Tabel 6 diperoleh NPV pada akhir bulan ke-36 = Rp 38 556 960,-, Net B/C = 1.43, dan IRR = 39.42, dengan usulan tenggang waktu pengembalian pinjaman 11 bulan dan jangka waktu pengembalian pinjaman 25 bulan. Jadi, agribisnis yang diusulkan diduga menguntungkan dan uang pinjaman ke bank berikut bunganya dapat dikembalikan pada waktunya. Tabel 6. Analisis Keuangan (Rupiah) Agribisnis Berkelanjutan Bersistem LEISA Bulan Investasi Cost Benefit Net Benefit Net Benefit DF 18% NPV (18%) Ke- Kumulatif 0 64195000 3500000 105000000 37305000 37305000 1.000000 37305000 1 27378975 12004500 -15374475 21930525 0.985222 21606429
  • 11. 11 2 21623550 33904500 12280950 34211475 0.970662 33207770 3 24249175 17204500 -7044675 27166800 0.956317 25980073 4 22240350 41904500 19664150 46830950 0.942184 44123383 5 24249175 35004500 10755325 57586275 0.928260 53455054 6 21171950 24804500 3632550 61218825 0.914542 55987198 7 25496050 31904500 6408450 67627275 0.901027 60933987 8 21623550 14004500 -7619050 60008225 0.887711 53269969 9 23750250 39104500 15354250 75362475 0.874592 65911436 10 22240350 20004500 -2235850 73126625 0.861667 63010817 11 27950250 41904500 13954250 87080875 0.848933 73925849 12 32446950 32904500 457550 87538425 0.836387 73216038 13 29696050 18904500 -10791550 76746875 0.824027 63241498 14 25823550 27004500 1180950 77927825 0.811849 63265648 15 27950250 24104500 -3845750 74082075 0.799852 59254659 16 26440350 39904500 13464150 87546225 0.788031 68989143 17 27950250 22004500 -5945750 81600475 0.776385 63353406 18 25371950 39804500 14432550 96033025 0.764912 73456774 19 29696050 12004500 -17691550 78341475 0.753607 59038721 20 25823550 33904500 8080950 86422425 0.742470 64166094 21 27950250 32204500 4254250 90676675 0.731498 66329802 22 26440350 26904500 464150 91140825 0.720688 65684066 23 27950250 39904500 11954250 103095075 0.710037 73201326 24 59446950 19904500 -39542450 63552625 0.699544 44457852 25 29696050 31904500 2208450 65761075 0.689206 45322916 26 25823550 14004500 -11819050 53942025 0.679021 36627742 27 27950250 37104500 9154250 63096275 0.668986 42210508 28 26440350 22004500 -4435850 58660425 0.659099 38663042 29 27950250 39904500 11954250 70614675 0.649359 45854265 30 26214550 19904500 -6310050 64304625 0.639762 41139683 31 29696050 31904500 2208450 66513075 0.630308 41923711 32 25823550 14004500 -11819050 54694025 0.620993 33964602 33 27950250 37104500 9154250 63848275 0.611816 39063376 34 26440350 22004500 -4435850 59412425 0.602774 35812269 35 27950250 39904500 11954250 71366675 0.593866 42382248 36 25371950 19904500 -5467450 65899225 0.585090 38556960 NPV (18%) = Rp38556960 IRR = 39.42 Net B/C = 1.43 Grace periods diusulkan 11 bulan Payback periods 25 bulan IV. PENUTUP: ARAH PENGEMBANGAN USAHA Jika agribisnis ini terbukti menguntungkan pula dalam implementasinya, pengembangan usaha perlu dipertimbangkan dengan membangun kemitraan bersama petani setempat, misalnya, dengan menempatkan agribisnis ini sebagai inti dan usahatani di sekitarnya sebagai plasma. Terbuka pula kemungkinkan mengembangkan usahatani ini inkubator agribisnis bagi para petani setempat melalui menjadi jalinan kerja sama dengan instansi pemerintah (Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perikanan, dan Dinas Peternakan) serta lembaga swadaya masyarakat yang relevan (seperti Himpunan Kerukunan Tani (HKTI), Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Asosiasi Peternak Unggas, dan Koperasi Serba
  • 12. 12 Usaha). Pengembangan usaha bahkan dapat dilakukan di lahan yang sama, misalnya dengan memasukkan komponen peternakan domba garut dan mengembangkan mina-padi di sawah untuk memperluas cakupan diversifikasi usaha secara horizontal dan atau dengan memasukkan komponen usaha penetasan itik dan komponen usaha pembesaran ikan di waduk Cirata/Jatiluhur/Saguling untuk memperluas cakupan diversifikasi usaha secara vertikal. Konversi kegiatan produksi tanaman menjadi benih sebagai produknya perlu dipertimbangkan pula untuk meningkatkan keuntungan usahatani. UCAPAN TERIMA KASIH Para penulis mengucapkan terima kasih kepada Sdr. Cecep Santiwa, A. Md. yang sejak lama menjadi teman berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan implementasi sistem LEISA di lapangan. DAFTAR PUSTAKA Anonimus. 2001a. PROPEDA (Program Pembangunan Daerah) 2001-2005. Kabupaten Cianjur. (Buku Saku). -----------. 2001b. REPETADA (Rencana Pembangunan Tahunan Daerah 2001 Kabupaten Cianjur. (Buku Saku). Baharsjah, S. 1992. Kebijakan pembangunan pertanian dan penanggulangan kemiskinan. Pangan No. 13(IV):43-48. Cai, C. 1995. The theory and building up of eco-ecological garden. Handout for The Second International Training Course on Upland Agro-ecological Construction for The Developing Countries. Kunming, China. Reijntjes, C., B. Haverkort and A.Waters-Bayer. 1992. Farming for The Future: An Introduction to Low-External-Input and Sustainable Agriculture. MacMillan and ILEIA. Leusden, Netherlands. The World Bank. 1998. Indonesia in Crisis: A Macroeconomic Update. Washington, D.C.